Tampilkan postingan dengan label katholik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katholik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Om Jatu


my dear little brother

Si bontot dari kita bertiga.  Meskipun kedua kakaknya cewek, tapi dia dijamin cowok banget… yaah, cuma kadang-kadang suka manja-manja gitu deh!  Tapi, jangan diragukan lagi…  Selain baik hati dan tidak sombong, si Om rajin menabung dan tidak merokok!  Hahaha…

Flashback, inget sekitaran tahun 1987-1988… waktu our mommy masih hamil doi…  Saat itu gw masih kelas 2 SD.  Kalau malam sebelum tidur, ibu ngajak gw dan adik –Yani– untuk berdoa.  Setelah itu, ibu pasti ngelus-ngelus perut gendutnya sambil bilang, “Selamat tidur ya, Yohanes..!”  Kyaaaa…!?  Hampir setiap malem ibu begitu.  Gw yang waktu itu masih kecil spontan nanya ke ibu, “Emang adik laki-laki ya? Kok ibu manggil dia Yohanes? Kok ibu tau sih kalo adik itu laki-laki…?  Ibu cuma senyum.

Emang rencana Tuhan yang bekerja, ternyata si adik memang cowok –tulen–.  And you know…  Adik lahir tanggal 24 Juni, tepat pada hari kelahiran Yohanes Pembaptis (yang membaptis Yesus di Sungai Yordan) menurut kalender liturgi Katholik.  It’s so great!  Sampe sekarang gw ga tau, dan ga pernah nanyain ke ibu…  Dulu tuh ibu emang udah cek USG ke dokter kandungan kalau anak yang dikandungnya laki-laki atau cuma harapan ibu pengen punya anak laki atau bagaimana!?  Terus lagi mungkin ibu hitung HPL/perkiraan tanggal melahirkannya kapan…, tapi adik kan dilahirkan normal, emang ibu tau persis mau melahirkan dia ranggal 24 Juni!?  Amazing deh aahh…

Let’s talk about his nameYohanes Jatu Santoso

Seperti yang udah gw ceritain diatas… asal-usulnya nama Yohanes memang datang dari ibu sendiri, dari sejak masih hamil adik.  Yaaah, aku sih menganggapnya itu doa ibu yang dikabulkan Tuhan.  Anaknya udah 2 orang cewek semua, dan ibu kepengen punya anak cowok…  Karena kira-kira tanggal lahirnya deket dengan tanggal perayaan liturgi Yohanes Pembaptis, jadi ibu akan menamai adik Yohanes, kalau emang yang lahir cowok!

Jatu…  Buat gw, nama ini ‘Yogya’ banget…  Emang nama pemberian Eyang Kakung –bokapnya bokap– yang asli wong Ngayogyakarta!  Jatu kependekan dari “Dorodjatun“, nama kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yakni Bendoro Raden Mas Dorodjatun.  Sepertinya Eyangkung ingin menanamkan identitas itu, bahwasannya kita adalah keluarga Yogyakarta.  Tepatnya masih ada silsilah dari kesultanan HB III.  Gw inget dulu Eyangkung suka gambarin gw pohon keluarga, silsilah keluarga…  Di situ ada nama-nama Raden Mas Surojo (Sri Sultan HB III), Raden Mas Ontowiryo (Pangeran Diponegoro), Bandung Bondowoso, dll. termasuk RM Hardjowasito (eyang buyut gw), R Suparman (eyangkung gw) dan R Wasisto Rahardjo (bokap gw).  Arti dari nama Dorodjatun menurut nalar dan imajinasi Jawa adalah harapan agar si anak kelak memiliki derajat tinggi, cakap dalam mengemban pangkat dan berbudi luhur…  Semoga doi begitu juga yaa…

Dan, Santoso…  Seinget gw nama ini dari Mbah Kakung/Mbah Jenggot –bokapnya nyokap– yang artinya orang yang kuat, gagah.  Entah sumbernya darimana, mungkin bapak atau ibu sendiri yang cerita.

Yang jelas… si adik sekarang udah jadi kesayangan keponakan-keponakannya, Jeanne dan Vanya!  Om Jatu… Om Jatu..!!  Hwehehee…  Seringkali handphone si Om jadi rebutan kedua keponakannya ini, buat mainan!  Tapi mereka semua simbiosis mutualisme kok…  Buktinya kalau si Om udah mulai pegang kamera, keponakannya udah langsung siap bergaya jadi model foto Om-nya…  Hahaha…!

Sehat-sehat ya, Om…  Sukses terus!  Tuhan selalu memberkati.


Kamis, 08 Juli 2010

Si kecil Nana

Selasa Pahing, Delapan Juni Dua Ribu Sepuluh

Tepat sebulan yang lalu dia dilahirkan, jam 09.52 pagi...  Dalam kondisi yang memprihatinkan, panjang badan 46 cm dan berat badan 1,925 kg.  Lahir dengan berat badan yang kurang, karena tidak memperoleh asupan gizi yang cukup layak ketika dikandung ditambah dengan kondisi ibu yang tidak mendukung saat hamilnya.  Ya, sungguh kasihan dia.  Siapa yang tega melihat posturnya yang sangat kecil dibandingkan dengan bayi-bayi normal lainnya...?  Lemah, tidak berdaya, menangis pun rasanya tidak cukup kuat dilakukannya.  Namun satu keyakinanku, Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk dijalani si kecil ini...  Apapun itu, aku pasrah dan percaya kepada-Nya...

Antara Hidup dan Mati

Tidak dapat dipungkiri, setiap proses melahirkan pasti melalui masa-masa kritis ini, baik ibu ataupun bayinya, khususnya sang ibu.  Dengan bekal pengetahuan (mengenai kehamilan dan persalinan) yang sangat kurang -bahkan tidak tahu-,  dengan stamina kesehatan yang pas-pasan, seluruh keluarga hanya mengharapkan keajaiban dan mujizat dari Tuhan untuk si kecil dan bundanya dapat melalui masa-masa kritis ini.  Bayangkan, selama masa kehamilan, tidak ada makanan tambahan penting yang seharusnya diberikan untuk menjaga tumbuh kembang janin..!  Susu khusus ibu hamil pun diberikan ketika usia kandungan sudah lewat dari 8 bulan.  Tidak satu pun referensi yang cukup untuk menuntun sang ibu melalui setiap fase-fase persalinan.  Nol.  Benar-benar tidak paham resiko-resiko kehamilan dan melahirkan. Dan ternyata, Bunda sudah mengalami eklamsia...  Buah hati yang dikandungnya sudah melampaui umur kehamilan (hamil tua), hingga 41 minggu.  Menurut dokter dan para perawat yang membantu persalinan, air ketuban sudah berwarna hijau, sangat tidak sehat dan membahayakan.  Ditandai dengan kaki yang membengkak, keracunan dalam kehamilan ini beresiko besar untuk Bunda dan dia dapat meninggal.  Hanya Tuhan lah yang tahu dan merencanakan semua....
Benar saja, hal yang sangat mengkhawatirkan terjadi...  Dini hari pukul 1 pagi, Bunda sudah mulai merasakan sakitnya kontraksi, darah sudah keluar menandakan harus segera ada tindakan menuju fase persalinan.  Siapa sangka ternyata tekanan darah Bunda sangat tinggi, mencapai 160/130.  Menambah resiko berbahaya untuk melahirkan secara normal.  Rumah sakit bersalin yang didatangi pun 'angkat tangan', tidak berani mengambil resiko.  Dengan ambulans meraung-raung, Bunda segera diarahkan ke rumah sakit yang lainnya.  Namun Tuhan menghendaki lain, fase pembukaan sudah lengkap dan Bunda tetap melahirkan secara normal.  Dia yang sangat kecil keluar dari rahim Bunda, harus segera memperoleh perawatan khusus karena berat badan yang sangat kurang.  Kasarnya, bayi kurang gizi... Harus tidur beberapa hari dalam hangatnya inkubator, sampai badan mungilnya siap menerima udara suhu kamar yang dingin dibandingkan ketika di dalam rahim Bunda.  Tidak terduga akan terjadi, sebentar kemudian, Bunda mengalami kejang-kejang hebat... darah keluar dari mulutnya... tak sadarkan diri... sampai kira-kira 3 jam lamanya.   
Dalam proses pemindahan ke ruang ICU, di sudut yang lain di luar ruangan, sang Nenek menangis pilu melihat kondisi memprihatikan anak dan cucunya.  Tidak bisa berkata-kata lagi.  Luluh lantak hatinya tak terperi, ketakutan dan kekhawatiran melanda hebat.  Hanya tinggal doa yang tersisa....  Aku pun menitikkan air mata menjadi saksi dalam peristiwa ini.  Sosok yang keras hati, beraga 'lumayan' besar dan berisi itu  terbaring tak berdaya.  Dengan mengenakan pakaian putih-putih khusus pasien, rambut yang terurai berantakan, dan harus bernafas dengan bantuan masker oksigen, serta selang infus yang menghiasi tangan kanan dan kirinya.  Oh, Tuhan.... aku tidak sampai hati.... tidak tega dengan ini semua....  Mohon uluran tangan-Mu, pulihkan kehidupan Bunda dan dia.  Kuatkan dan tabahkan hati kami sekeluarga menghadapi terpaan ujian sekaligus karunia indah ini.... Selamatkanlah Tuhan..!  Selamatkanlah mereka..!

Williana Clemency Livanya

Hanya nama yang sungguh indah yang dapat ku persembahkan untuknya.  Nama yang sarat dengan makna, nama yang akan disandang seumur hidup si kecil.  Sesuai dengan harinya, hari peringatan Santo William, maka tercetuslah "Williana"... selain inginku nama Katholik yang melekat, menunjukkan identitas diri sebagai insan Nasrani.  "Clemency" berarti pengampunan... "Liv", dalam bahasa Skandinavia, berarti kehidupan... dan "Anya" adalah penggabungan dari nama kedua orang tua yang melahirkannya.  Jadi, mohon pengampunan untuk kehidupan kedua insan (orang tuanya) sehingga lahirlah si kecil tak berdosa ini.  Sambil berdoa memohon petunjuk Tuhan untuk menyusun nama ini, semoga nama ini menjadi peringatan dan titik balik kehidupan kedua orang tua si kecil menjadi lebih baik ke depannya.

Satu Bulan

Satu bulan sudah berlalu sejak dia pertama kali menghirup nafas di dunia yang fana ini.  Satu bulan sudah berlalu masa-masa mencemaskan itu...  Panjatan syukur tiada henti kepada-Mu atas kehidupan 'kedua' Bunda dan kehidupan untuknya.  Doaku selanjutnya, semoga dia menjadi pribadi yang kuat, yang baik dan berprinsip...  Seorang Kristiani yang utuh, dengan jasmani dan rohani yang sehat.  Sehingga dapat menjadi motivasi Bunda tercinta untuk selalu instropeksi diri, memperbaharui diri dan mau bangkit serta hidup bersama Kristus.  Semoga Tuhan memberikan kehidupan yang lebih baik, indah dan masa depan yang terjamin kepada si kecil Nana dan Ibundanya.  Ya, semoga kelak.....