Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

Cerita di Bentang Gumuk


 Alkisah di suatu peradaban belahan bumi nusantara, dimana manusia sudah rawan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, hidup terbiasa mengharapkan keajaiban yang selalu datang di depan mata. Enggan berkeringat karena berlari lebih kencang, hanya senantiasa berjalan santai ditemani dengan lembaran koran dan sebotol nutrisi instan.

  
 


Siapa sangka mereka dengan prestige yang tinggi dan sifat yang besar pasak daripada tiang adalah sekumpulan manusia dengan penuh keberuntungan.  Dewi Fortuna yang selalu dekat, yang selalu siap mengangkat derajat mereka tatkala bertubi-tubi pedang menghujam dan menerbangkannya ke dunia fana yang terlalu indah.  Dunia ini memang tidak adil... Jadi, nikmati sajalah..!


Behind the scenes :
Bersama dengan rekan-rekan sepekerjaan,
berjalan di atas gumuk pasir (sand-dune) yang halus,
ditemani terpaan angin Yogyakarta yang membuai,
kenangan ketika 1 November 2013.

Terima kasih, Kawan!
Jangan merasa sakit hati ya, ini cuma candaan kita sehari-hari...


Kamis, 16 Mei 2013

Om Jatu


my dear little brother

Si bontot dari kita bertiga.  Meskipun kedua kakaknya cewek, tapi dia dijamin cowok banget… yaah, cuma kadang-kadang suka manja-manja gitu deh!  Tapi, jangan diragukan lagi…  Selain baik hati dan tidak sombong, si Om rajin menabung dan tidak merokok!  Hahaha…

Flashback, inget sekitaran tahun 1987-1988… waktu our mommy masih hamil doi…  Saat itu gw masih kelas 2 SD.  Kalau malam sebelum tidur, ibu ngajak gw dan adik –Yani– untuk berdoa.  Setelah itu, ibu pasti ngelus-ngelus perut gendutnya sambil bilang, “Selamat tidur ya, Yohanes..!”  Kyaaaa…!?  Hampir setiap malem ibu begitu.  Gw yang waktu itu masih kecil spontan nanya ke ibu, “Emang adik laki-laki ya? Kok ibu manggil dia Yohanes? Kok ibu tau sih kalo adik itu laki-laki…?  Ibu cuma senyum.

Emang rencana Tuhan yang bekerja, ternyata si adik memang cowok –tulen–.  And you know…  Adik lahir tanggal 24 Juni, tepat pada hari kelahiran Yohanes Pembaptis (yang membaptis Yesus di Sungai Yordan) menurut kalender liturgi Katholik.  It’s so great!  Sampe sekarang gw ga tau, dan ga pernah nanyain ke ibu…  Dulu tuh ibu emang udah cek USG ke dokter kandungan kalau anak yang dikandungnya laki-laki atau cuma harapan ibu pengen punya anak laki atau bagaimana!?  Terus lagi mungkin ibu hitung HPL/perkiraan tanggal melahirkannya kapan…, tapi adik kan dilahirkan normal, emang ibu tau persis mau melahirkan dia ranggal 24 Juni!?  Amazing deh aahh…

Let’s talk about his nameYohanes Jatu Santoso

Seperti yang udah gw ceritain diatas… asal-usulnya nama Yohanes memang datang dari ibu sendiri, dari sejak masih hamil adik.  Yaaah, aku sih menganggapnya itu doa ibu yang dikabulkan Tuhan.  Anaknya udah 2 orang cewek semua, dan ibu kepengen punya anak cowok…  Karena kira-kira tanggal lahirnya deket dengan tanggal perayaan liturgi Yohanes Pembaptis, jadi ibu akan menamai adik Yohanes, kalau emang yang lahir cowok!

Jatu…  Buat gw, nama ini ‘Yogya’ banget…  Emang nama pemberian Eyang Kakung –bokapnya bokap– yang asli wong Ngayogyakarta!  Jatu kependekan dari “Dorodjatun“, nama kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yakni Bendoro Raden Mas Dorodjatun.  Sepertinya Eyangkung ingin menanamkan identitas itu, bahwasannya kita adalah keluarga Yogyakarta.  Tepatnya masih ada silsilah dari kesultanan HB III.  Gw inget dulu Eyangkung suka gambarin gw pohon keluarga, silsilah keluarga…  Di situ ada nama-nama Raden Mas Surojo (Sri Sultan HB III), Raden Mas Ontowiryo (Pangeran Diponegoro), Bandung Bondowoso, dll. termasuk RM Hardjowasito (eyang buyut gw), R Suparman (eyangkung gw) dan R Wasisto Rahardjo (bokap gw).  Arti dari nama Dorodjatun menurut nalar dan imajinasi Jawa adalah harapan agar si anak kelak memiliki derajat tinggi, cakap dalam mengemban pangkat dan berbudi luhur…  Semoga doi begitu juga yaa…

Dan, Santoso…  Seinget gw nama ini dari Mbah Kakung/Mbah Jenggot –bokapnya nyokap– yang artinya orang yang kuat, gagah.  Entah sumbernya darimana, mungkin bapak atau ibu sendiri yang cerita.

Yang jelas… si adik sekarang udah jadi kesayangan keponakan-keponakannya, Jeanne dan Vanya!  Om Jatu… Om Jatu..!!  Hwehehee…  Seringkali handphone si Om jadi rebutan kedua keponakannya ini, buat mainan!  Tapi mereka semua simbiosis mutualisme kok…  Buktinya kalau si Om udah mulai pegang kamera, keponakannya udah langsung siap bergaya jadi model foto Om-nya…  Hahaha…!

Sehat-sehat ya, Om…  Sukses terus!  Tuhan selalu memberkati.


Sabtu, 03 Oktober 2009

Secret Admirer

*** waktu itu....***

Di suatu sudut kota Yogyakarta,
Ngadinegaran MJ III / 68...
Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?  Mengapa semua menjadi tanda tanya besar dalam hati ini... Bagaikan sebuah teka-teki yang entah kapan dapat terjawab...  Sebuah harapan untuk masa depan, impian, ataukah hanya sekedar ilusi saja?  Sepertinya jika suatu saat nanti aku kembali ke kota ini, hanya sosok dirinyalah yang muncul dalam ingatan dan kembali menggetarkan hati.  Tapi, mengapa DIA ??!

Kamis Putih, 1 April 1999...
Misa di Gereja Hati Kudus Yesus, Pugeran.  Di tengah-tengah misa, bayangan dirinya tiba-tiba melintas begitu saja.  Menari-nari di dalam benakku... merasuk kalbuku... mencuri setiap detik waktuku...  Gundah diri ini dibuatnya, seakan-akan memaksaku untuk mengkhayalkan dirinya, merajut cerita indah yang mungkin hanya impian belaka..!  Siapa yang akan mempercayai semua hal ini?  Sepertinya tidak ada...  Tidak seorang pun percaya, apalagi mengerti kegalauan ini...  Mungkin yang terjadi hanya melemparkan senyuman picik, menertawakan pribadi yang penuh ilusi, memandang sebelah mata pribadi yang sarat dengan impian, bagaikan pungguk yang merindukan bulan...
Semakin aku memikirkannya, semakin aku tidak mengerti semua...  Mengapa harus DIA yang terlukis dalam khayal ini?  Sulit untuk diterima akal dan pikiran, namun sungguh mati aku menginginkannya..!!  Harapanku, semoga bayang-bayang dan ilusi inilah yang menjadi kenyataan dalam hidupku di masa yang akan datang...  Realita hidup yang penuh warna yang sangat dinantikan...  Tuhan, apakah memang akan menjadi seperti impian ini hidupku nantinya...  Apakah Engkau merencanakan hal yang sama dengan impianku ini?

Jumat Agung, 2 April 1999...
DIA hadir kembali menghiasi relung hati ini, namun sampai kapankah bayangannya akan selalu datang menghampiri sukmaku?  Bukan hanya di dalam hati saja, tapi juga di setiap hentakan langkah kakiku...  Aku menginginkannya, sungguh..!  Haruskah aku tetap menantimu sampai kapan pun itu?  Haruskah hadirmu mengalahkan cinta-cintaku yang lain?  Akankah mimpi ini akan terwujud menjadi nyata?  Aku sangat pesimis.  Memang aku mengenalnya, dia juga begitu... Namun, hanya sebatas nama..!  Hampir tidak pernah kita saling melontarkan kata, tidak pernah sekalipun kita berjalan bersama, mungkin tidak akan pernah kita bergandengan tangan...  Jadi sangatlah mustahil diriku dan dirinya akan bersatu dalam ikatan CINTA.


*** saat ini...***

Ya, ternyata hal itu tidak bisa dipungkiri... Itu hanya sekedar ILUSI belaka. Impian yang tidak pernah tercapai, karena memang tidak ada jalan untuk menuju ke sana, tidak ada kekuatan untuk membangunnya, tidak ada hasrat yang kuat untuk sepenuh hati meraihmu.  Memang bukan kamu. Saat ini sudah melalui beberapa cinta setelahmu, mungkin beberapa hati yang terluka juga... Yang telah menyisakan kenangan yang manis sekaligus pahit menggores hati...

Ku ingat, hanya lewat telepon dan sms untuk mengucapkan "Selamat Ulang Tahun", selama beberapa kali. Hanya itu alasan yang tepat agar aku bisa menghubungimu, artinya hanya setahun sekali aku menghubungimu... Namun sekarang tidak lagi perasaan yang mengiringi ketika aku kembali mengucapkannya untukmu, hanya sekedar kata-kata ucapan saja. Dan perasaan cinta itu tidak akan ku ingat, agar hidupku dan hidupmu terus berlanjut dengan semestinya, sesuai jalannya.  Yang ku ingat hanyalah bahwa aku pernah Bermimpi Cinta Tentangmu...

**HQS**