Cinta.
Adalah satu kata yang dapat menghubungkan ‘rasa’ dan ‘dosa’.
Jika mencintaimu adalah sebuah dosa, maka kamu adalah dosa terindah di dalam hidupku…
Kita tidak bisa memilih ketika rasa cinta itu hadir, terhadap siapa
pun, kapan pun, dimana pun… Tidak usah kau rencanakan hadirnya cinta,
dia bisa datang sendiri, bahkan bisa menghilang sendiri seiring dengan
berjalannya waktu… –kaya jelangkung juga… datang tak diundang, pulang
tak diantar… hiiyyy!– Bagaimana rasanya jika cinta itu menghampiri?
Menggebu-gebu seperti deburan ombak yang siap menghanyutkan butiran
pasir, seperti kita yang terbius dan terlena sehingga pikiran ini
mengalahkan logika… Sakit tak tertahankan menusuk kalbu karena merindu…
Meluap-luap gembira seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah yang
diinginkannya… Ataukah, biasa saja? Berusaha kita pendam, tutup
rapat-rapat, agar tiada orang lain yang tau? Mungkin karena kita ragu
dengan perasaan cinta itu, atau karena tau tidak dapat kita raih, atau
justru karena cinta itu terlarang!?
Ya. Cinta yang terlarang dapat menimbulkan dosa. Lambat laun, cinta
yang seperti ini dapat membuat kita menjadi dua sisi yang bertolak
belakang. Cinta yang satu adalah realita, yang wajib kita pertahankan
dalam keadaan senang maupun sedih, yang selalu merenggut diri kita dan
melebur dalam pengorbanan tanpa syarat. Cinta ini harus terwujud karena
alasan manusia sebagai insan sosial, karena umur dan waktu, karena
kejelasan status. Cinta yang lainnya adalah fantasi. Mungkin cinta yang
diidamkan namun tidak pernah terwujud, mungkin cinta yang selalu
ditunggu hadirnya, mungkin cinta yang bersifat sesaat, sebentar saja.
Yang menyebabkan kita berharap waktu terulang kembali, menyesali cinta,
dan berharap akan keajaiban tentang cinta. Seperti di negeri dongeng, di
dimensi alam dan waktu yang lain. Seperti orang dengan dua kepribadian.
Dulu harapanku, cinta yang lainnya ini akan lenyap ketika menemui
realita pernikahan! Tapi ternyata tidak begitu adanya. Dia bisa
tiba-tiba datang kembali, bermunculan di depan mukaku, menari-nari di
dalam benakku, menghancurkan semua rencana waktuku, bahkan
memporak-porandakan seluruh isi hatiku..!! Bisakah aku melanjutkan
perjalanan hidupku dengan dua cinta ini? Haruskah aku meninggalkan salah
satunya dan membunuh perasaanku sendiri? Bagaimana aku menata hati ini
kembali? Bagaimana aku memperbaikinya jika suatu waktu nanti semua
berbalik meninggalkanku di saat yang bersamaan? Bisakah mereka yang aku
cintai memaafkan aku dan mau mengerti isi hatiku dan seluruh hidupku?
Berat, jika harus menentukan sikapku saat ini. Egois, jika aku ingin
mewujudkan semuanya. Namun aku tidak bisa meninggalkan semua ini…
Jangan kasihani aku, aku tidak dalam keadaan sedih. Jangan salahkan
rasa, namun maafkan aku karena dosa ini..!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar